Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 20 December 2009

I'm sorry I dont know you

Lebih sepuluh kali dalam empat bulan terakhir ini saya memaki orang atau sekedar berlaku tidak sopan ditelepon. Apa pasalnya? Tentu saja ada. Saya bukan orang yang gampang terpancing emosi sebenarnya. But never try to play on me. Lalu kenapa saya sampai sedemikian emosi sampai memaki??

Awalnya ada sebuah nomor tidak dikenal. Jujur saja, saya paling malas mengangkat telepon tipe ini. Jika sedang dalam keadaan tidak memiliki janji atau urusan apapun dengan seseorang yang kemungkinan nomor ponselnya belum saya kenali, jangan harap saya akan mengangkat nomor tak dikenal tersebut.

Berawal dari keisengan saja, saya mengangkat telpon anonim itu,
"Hai, lagi dimana?" (Dengan nada sok akrab, dan saya tidak mengenal suaranya)
"Ini siapa ya?"
"Iya, lagi dimana?"
"Ini siapa?"
"Masa lupa..."
"ANDA siapa??"
"Kawanmulah"
"SIAPA??"
"*****" (Dia menyebutkan nama salah satu teman saya. Dan detik itu juga saya tahu dia berbohong. Nama yg dia sebutkan adalah nama seorang teman saya yg berdarah padang. Namun, dalam beberapa detik percakapan singkat itu saja saya tahu yg menelpon saya adalah seseorang dengan logat batak yg sangat kental)
Lalu dengan suara se-emosional mungkin, saya hardik dia,
"KURANG AJAR"
Tuuutt telpon saya matikan.

Beberapa orang pasti heran melihat saya se-emosional itu, tetapi yang lain pasti sudah terbiasa melihat emosi saya tak terkontrol. Ada hal-hal yang benar-benar tidak saya suka disini.

1. Menurut saya, secanggih apapun zaman, etika tetap harus digunakan. Menelpon seseorang yang kemungkinan tidak/belum mengenal nomor kontak anda, ada baiknya diawali dengan perkenalan. Bukan sok penting atau bagaimana, tapi ini etika. Atau jika anda memang sangat yakin si penerima telpon mengenal anda, ada baiknya anda membantu jika ia terlupa dan menanyakan siapa anda. Bukan malah saling melempar pertanyaan tidak jelas. Waktu adalah segalanya, dan kelakuan anda yang kekanak-kanakan benar-benar tidak efisien.

2. Walau tidak dibahas di kurikulum manapun dinegeri ini, telpon-menelpon juga memiliki aturan dan tatacara tidak tertulis. Saya sendiri paling tidak suka menerima telpon anonim dan diawali dengan pertanyaan 'lagi dimana?' Or something like that. Kesannya SKSD banget yaa. Hellooo, memangnya anda pikir anda siapa dengan seenaknya menanyakan keberadaan saya saat saya sendiri tidak tahu siapa anda. Perlu menjadi bahan pertimbangan, tidak semua orang saya beri izin untuk mengetahui keberadaan saya. Saya punya prioritas. Keluarga, sahabat, teman. Tidak ada tempat untuk orang tidak dikenal. Sepertinya repot sekali? Oh tidak, ini prosedur yang beretika.

3. Belajarlah menipu. Awali dengan menipu diri sendiri. Don't play on me, and don't try to!! Menipu itu seni. Perlu latihan panjang dan improvisasi. Sedikit saja kesalahan, hati-hati! Saya bisa mencium kebusukan, sekalipun sedang flu tak karu-karuan. Anda kira saya pakai jin, arwah, ngelmu hitam? Ohh tidak.. Untuk tahu trik pencuri, posisikan diri anda sebagai pencuri. Enaugh! And I catch u!

4. Maaf saya memaki dengan suara tinggi. Jujur, saja dalam beberapa hal saya bisa mengatur emosi saya sekehendak saya. Prinsip saya, I'm the driver of me! Mungkin suara saya tinggi dan memaki. Tapi efek yang saya harapkan bukan emosi saya terpuaskan karena saya tidak dalam keadaan seemosional itu untuk memaki. Suara tinggi dan makian yang saya keluarkan lebih bertujuan untuk menghardik dan memberi efek jera untuk tidak lagi mengulangi keusilannya pada saya.

5. Saya langsung menutup telpon tanpa salam? Oh ya itu harus. Anda sopan saya segan. Anda tidak respek terhadap saya, saya bisa lebih dari itu.

6. Si penelpon gelap memang sedang sial. Menelpon saya saat saya sedang emosi tak karuan. Hahahaha.

7. Terakhir, nomor anda terblacklist di HP saya dan terlabeli dengan nama "mo**ey". Ada mo**ey 1, 2, 3 dan seterusnya.

Membaca tulisan di atas mungkin anda mengira saya orang sombong nan angkuh. Ahahahaha. Terserah anda. U deserve to jugde me, but I deserve too to jugde u as impolite person.
Telepon, ponsel, atau apapun yang memperlihatkan kecanggihan di muka bumi ini sangat berkembang bukan berarti membuat kita melupakan etika.
Aturannya jelas, anda sopan, saya segan.

Monday, 7 December 2009

Bumi Menganga

Sumpah aku ingin menuliskannya. Tapi sepertinya aku kehilangan media. Bumi seperti menganga tanpa bilang dulu sebelumnya. Lalu tinggallah aku yang terkejut tiba-tiba menyadari aku telah berdiri disatu tepi dengan kalian di tepi yang lain. Harusnya ada penjelasan untuk ini semua. Harusnya ada sesuatu yang bisa kita tuntut tanggung jawabnya. Tapi sudahlah, toh hanya aku sendiri yang menyadari jurang itu ada.

'Hey, kau! Ya kau, hati-hati! Selangkah lagi kau akan jatuh. Apa kau tidak melihat ada jurang menganga di depanmu?'

'Jurang? Ah kau gila. Tak pernah ada jurang disini.'

Lalu, plung. Dan dia tak nampak lagi.

Sekali, dua kali, tiga kali aku peringatkan. Satu, dua, tiga juga yang telah hilang. Apakah aku salah? Oh tidak, aku hanya dituduh gila.

Ada perang nurani yang terjadi. Antara tetap berdiri, mencoba sekuat hati mengajak mereka 'melihat' ada celah raksasa yang harus kita jembatani atau memilih pergi dan ikut berpura-pura tidak pernah terjadi retakan bumi disini.

Aku memilih yang kedua, maaf. Aku bukan superman. Hanya manusia biasa. Aku akan ikut berpura-pura bumi akan lepas landas tanpa celah. Namun, aku takkan melewati lagi tempat itu. Karena aku memilih untuk tidak jatuh bersamamu, sayang.

Saturday, 5 December 2009

Messiah

We stand on two different land, honey. U wish the coming of the one, and I wish the Fu. But still, messiah will not come in a gang.